OriginalPosted By jf00112 Saya bukan penjawab resmi, tapi kalo boleh jawab, karena secara akal ada kelemahan dalam metoda pengumpulan dan verifikasi hadits, sehingga isinya tidak bisa dipastikan 100% PASTI bersumber dari Muhammad. Bisa saja bersumber dari Muhammad, bisa juga tidak. Kalau sebagian ada yang menutupi celah ketidakpastian itu dengan prasangka baik dan iman kepada para perawi
Diamengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya." (QS. Al 'Alaq: 1-5). Bacalah! Bacalah! Surat ini adalah yang pertama kali turun pada Rasul -shallallahu 'alaihi wa sallam-. Surat tersebut turun di awal-awal kenabian. Ketika itu beliau tidak tahu tulis menulis dan tidak mengerti tentang iman.
WahyuPertama Diturunkan Dari Surah dalam niat merupakan permohonan dalam hati untuk laksanakan suatu amalan. Rasulullah SAW menjelaskan bahwa kemauan jadi penentu pahala sebuah perbuatan. amalnya bakal terputus karena udah tidak sanggup bekerja dan beramal lagi. Namun terkandung lebih dari satu amalan yang bakal tetap mengalir pahalanya
Alquranadalah firman Allah yang turun kepada Nabi Muahammad SAW, melalui malaikat Jibril. Turunnya Alquran berlangsung berangsur-angsur, dalam dua periode perjalanan hidup Rasulullah yaitu ketika di Mekkah dan di Madinah. Surat pertama yang turun adalah Al-'Alaq yang turun ketika di gua Hira.
. KITAB suci Alquran, adalah pedoman hidup utama bagi umat islam. Alquran adalah firman Allah yang turun kepada Nabi Muahammad SAW, melalui malaikat Jibril. Turunnya Alquran berlangsung berangsur-angsur, dalam dua periode perjalanan hidup Rasulullah yaitu ketika di Mekkah dan di Madinah. Surat pertama yang turun adalah Al-Alaq yang turun ketika di gua Hira. Namun mengapa pada saat ini, urutan surat dalam Alquran dimulai dari surat Al-Fatihah, bukan Al-Alaq? Berikut alasannya Pertama, Al-Qur’an diturunkan ke dunia melalui dua tahap Tahap pertama, diturunkan sekaligus dari “lauhil mahfudz” ke “baitul izzah” di langit dunia sebagaimana susunan yang telah ditetapkan oleh Allah. Tahap kedua, diturunkan dari langit dunia kepada Rasulullah SAW, secara berangsur-angsur sesuai dengan sebab kejadiannya. Tetapi susunan ayat-ayat dalam Al-Qur’an yang ada sekarang, itu memang bukan menurut sejarah turunnya, melainkan atas dasar perintah Allah sama dengan susunann Al-Qur’an yang di “lauhil mahfudz”. BACA JUGA Penjelasan Hujan dalam Alquran 1 Imam Ahmad, meriwayatkan bahwa setiap kali turun ayat, Rasulullah memerintahkan para penulis wahyu, seraya bersabda “letakkan ayat ini setelah ayat ini di surat ini” Musnad Imam Ahmad Jilid1, hal57. Banyak riwayat yang menegaskan bahwa Rasulullah mengimami shalat, dengan membaca Al-Qur’an sebagaimana susunan ayat yang ada. Atas dasar ini ijma’ ulama menegaskan bahwa susunan ayat-ayat Al-Qur’an murni dari Allah tanpa campur tangan siapapun. Begitu juga susunan surah-surah dalam Al-Qur’an, sekalipun ada perbedaan pendapat, tetapi pendapat yang paling kuat adalah bahwa susunan surah-surah itu berdasarkan wahyu dari Allah SWT, bukan ijtihad para sahabat. Pendapat ini didukung dengan banyak riwayat yang sahih, seperti keterangan bahwa Rasulullah sering membaca dalam shalatnya, beberapa surah secara berurutan seperti susunan yang ada. Rasulullah SAW sebagaimana riwayat Imam Bukhari – setiap tahun dua kali menyetor hafalan Al-Qur’an dari awal sampai akhir, kepada Malaikat Jibril. Setoran ini tentu secara berurutan sesuai dengan susunan yang ada. Ini juga diperkuat dengan ijma’ para sahabat dan kesepakatan jumhurul ulama mayoritas ulama terhadap susunan Al Qur’an ada sekarang adalah merupakan bukti yang menguatkan bahwa susunan surah-surah berdasarkan wahyu lihat fadhailul Qur’an, libni katsir, 86. Kedua, mengenai pengelompokan ayat dalam setiap surat sesuai dengan riwayat Imam Ahmad di atas tentu juga berdasakan wahyu. Bagitu juga nama-nama surah, semuanya sesuai dengan petunjuk wahyu. Demikian pula waqaf per ayat, tidak bisa diketahui kecuali melalui wahyu. Adapun penentuan juz-juz Al-Qur’an yang tiga puluh jumlahnya, itu bukan dari Sahabat Utsman, karena mushhaf utsmani Al-Qur’an yang ditulis di zaman Utsman tidak terdapat juz-juz tersebut. Melainkan dari para ulama, dengan maksud untuk mempermudah. Sekalipun dalam hal ini para ulama berbeda pendapat antara boleh dan tidak, namun kemudian dianggap boleh-boleh saja, selama tidak merusak susunan Al-Qur’an yang asli. BACA JUGA Penjelasan Hujan dalam Alquran 2-Habis Ketiga, penentuan suatu ayat dimansukh dengan ayat lainnya, itu tidak melalui ijtihad, melainkan melalui tiga hal berikut 1. Penegasan dari Nabi SAW atau sahabat Seperti hadits ” Aku dulu pernah melarangmu melakukan ziarah ke kuburan, maka sejak ini silahkan lakukan ziarah kubur tersebut”. 2. Kesepakatan umat bahwa ayat ini nasikh dan yang satunya mansukh. 3. Mengetahui sejarah turunnya, maka yang diturunkan lebih dahulu itulah yang mansukh. Demikian wallahu a’lam bissawab. []
403 ERROR Request blocked. We can't connect to the server for this app or website at this time. There might be too much traffic or a configuration error. Try again later, or contact the app or website owner. If you provide content to customers through CloudFront, you can find steps to troubleshoot and help prevent this error by reviewing the CloudFront documentation. Generated by cloudfront CloudFront Request ID vYwUeYmUHjKm7MWEst-AaRxUG455pkwCovYPmvem033ER-vDFbFjcw==
al-Qur’anBulan Ramadhan merupakan bulan penuh rahmat bagi seluruh umat Islam. Bulan Ramadhan, menawarkan pahala yang melimpah bagi individu yang rajin menjalankan ibadah wajib, dan sunnah. Selain itu, pada bulan ini berbagai peristiwa-peristiwa penting bagi sejarah umat Islam terjadi. Salah satu peristiwa tersebut adalah turunnya wahyu pertama al-Qur’an, yang juga menandai dimulainya periode kenabian. Peristiwa tersebut merupakan salah satu peristiwa paling penting dalam perjalanan sejarah Umat Islam hingga dewasa ini, oleh karena itu pada pembahasan kali ini akan dipaparkan lebih lanjut mengenai sejarah turunnya wahyu pertama kepada Nabi Rasul Menjelang Turunnya Wahyu Goa Hira’ jabal al-NourKetika usia Muhammad bin Abdullah telah mendekati 40 tahun, beliau banyak menghabiskan hari-harinya untuk mengasingkan diri. Aktivitas tersebut mulai beliau kerjakan setelah melalui perenungan yang lama. Dengan membawa roti dari gandum dan air, beliau pergi ke Gua Hira’ di Jabal Nur, yang berjarak kurang lebih 2 mil dari kota Mekkah, suatu gua yang tidak terlalu besar, dengan panjang 4 hasta, dan lebar 1,75 hasta dengan ukuran zira’ al-Hadid hasta ukuran besi.Keluarga Rasul terkadang menyertainya ke sana. Selama bulan Ramadhan, beliau di gua ini, dan tidak lupa memberikan makanan kepada setiap orang miskin di sekitar sana. Selama bulan tersebut beliau menghabiskan waktunya untuk beribadah, memikirkan keagungan alam di sekitarnya, dan kekuatan tidak terhingga di balik alam. Beliau tidak pernah merasa puas melihat keyakinan umatnya yang penuh denan kemusyrikan, dan segala persepsi mereka yang tidak pernah lepas dari mitos. Sementara itu, di hadapan beliau juga tidak ada jalan yang jelas, dan mempunyai batasan-batasan tersentu yang bisa menghantarkannya kepada keridhaan, dan kepuasan Nabi Muhammad untuk mengasingkan diri termasuk dari ketentuan Allah kepadanya, sebagai langkah untuk menerima tugas besar yang sedang menantinya. Ruh manusia yang realitas kehidupannya akan disusupi suatu pengaruh, dan di bawa ke arah lain, maka ruh itu harus dibuat kosong, dan mengasingkan diri untuk beberapa saat, menjauh dari berbagai kesibukan duniawi, dan dinamika kehidupan yang membuatnya sibuk pada urusan Allah SWT mengatur, dan mempersiapkan kehidupan Rasulullah untuk mengemban amanat yang besar, mengubah wajah dunia, dan meluruskan garis sejarah. Allah telah mengatur pengasingan ini selama 3 tahun sebelum membebani Muhammad dengan risalah. Rasul biasanya pergi untuk mengasingkan diri selama jangka waktu sebulan sebelum kembali lagi ke rumahnya, dan begitu seterusnya hingga wahyu Al-Qur’an dan Turunnya Wahyu Al-Qur’anKetika Muhammad genap empat puluh tahun, tanda-tanda nubuwah kenabian sudah tampak. Diantaranya, adanya batu di Mekkah yang mengucapkan salam kepadanya, dan terjadinya ru’ya shadiqah mimpi yang benar berupa fajar subuh yang menyingsing. Hal ini berlangsung hingga enam bulan, dan ru’ya shadiqah tersebut merupakan bagian dari empat puluh enam tanda tahun ketiga dari pengasingan Muhammad di Gua Hira’, tepatnya di bulan Ramadhan, Alllah memberikan rahmatNya kepada penduduk bumi dengan memberikan kemuliaan kepada Muhammad, berupa pengangkatan sebagai Nabi, dan menurunkan Jibril kepadanya dengan membawa beberapa ayat Al-Qur’an. Peristiwa pengangkatan, dan turunnya wahyu tersebut terjadi pada hari Senin, tanggal malam ke-21 bulan Ramadhan[1] penjelasan mengapa malam ke-21 dapat dibaca di bawah, dan bertepatan dengan tanggal 10 Agustus tahun 610 M. Tepatnya ketika Rasul berusia 40 tahun 6 bulan 12 hari menurut penanggalan Qamariyah, dan sekitar 39 tahun 3 bulan 20 hari menurut penanggalan peristiwa turunnya wahyu tersebut, istri Rasulullah, Aisyah menuturkan kisahnya sebagai berikut, “Wahyu yang mula pertama dialami oleh Rasulullah Saw adalah berupa ru’yah shalihah dalam tidur, dan mimpi itu hanya berbentuk fajar subuh yang menyingsing, kemudian beliau lebih menyenangi penyendirian, dan melakukannya di Gua Hira’, beribadah di dalamnya beberapa malam sebelum dia kembali ke rumah keluarganya.”Dalam melakukan itu, beliau mengambil bekal kemudian kembali ke Khadijah mengambil perbekalan yang sama hingga datang kebenaran kepadanya yaitu saat beliau berda di gua Hira’ tesebut, seorang malaikat datang menghampiri sembari berkata, “bacalah!” Aku Rasulullah menjawab, “Aku tidak bisa membaca!” Rasul menuturkan, “Kemudian dia memegang, dan merengkuhku hingga aku kehabisan tenaga, lalu setelah itu melepaskanku sembari berkata, “bacalah!” Aku tetap menjawab, “Aku tidak bisa membaca!”Dia memegangku dan merangkulku hingga aku merasa sesak. Kemudian melepaskanku, seraya berkata lagi, “Bacalah!” aku menjawab “Aku tidak bisa membaca.”Dia memegangiku, dan merangkulku hingga ketiga kalinya hingga aku merasa sesak, kemudian melepaskanku, lalu berkataAl-Alaq 1-5ٱقۡرَأۡ بِٱسۡمِ رَبِّكَ ٱلَّذِي خَلَقَ ١ خَلَقَ ٱلۡإِنسَٰنَ مِنۡ عَلَقٍ ٢ ٱقۡرَأۡ وَرَبُّكَ ٱلۡأَكۡرَمُ ٣ ٱلَّذِي عَلَّمَ بِٱلۡقَلَمِ ٤ عَلَّمَ ٱلۡإِنسَٰنَ مَا لَمۡ يَعۡلَمۡ ٥Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu Yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar manusia dengan perantaran kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinyaRasulullah kemudian pulang membawa wahyu dengan hati yang penuh ketakutan, dan menemui Khadijah binti Khuwailid sembari berkata, “Selimutilah aku, selimutilah aku!” maka beliau diselimuti hingga badan beliau tidak lagi menggigil ketakutan layaknya terkena demam.“Apa yang terjadi padaku?” beliau bertanya kepada Khadijah. Beliau kemudian memberitahukan apa yang baru saja terjadi. Beliau berkata, “Aku takut akan terjadi sesuatu pada diriku.”Khadijah berkata, “Tidak demi Allah, Allah tidak akan menghinakanmu selamanya, karena engkau suka menyambung tali persaudaraan, membantu meringankan beban orang lain, memberi makan orang yang miskin, menjamu tamu, dan menolong orang yang menegakkan kebenaran.”Selanjutnya Khadijah membawa Rasul pergi menemui Waraqah bin Naufal bin Asad bin Abdul Uzza, anak paman Khadijah. Waraqah adalah seorang Nasrani sema Jahiliyah. Dia menulis buku dalam bahasa Ibrani, dan juga menulis Injil bahasa Ibraniseperti yang dikehendaki. Pada saat Khadijah membawa Rasul dia sudah tua, dan berkata kepada Waraqah, “Wahai putra pamanku, dengarkanlah kisah dari anak saudaramu.”Waraqah bertanya kepada beliau, “Apa yang pernah engkau lihat, wahai putra saudaraku?” Rasulullah kemudian menceritakan apa saja yang pernah Waraqah berkata, dia itu adalah An-Namus Jibril yang diutus Allah kepada Musa. Andaikan saja aku masih muda pada masa itu. Andaikan saja aku masih hidup ketika kaummu mengusirmu.”Rasul bertanya, “Benarkah mereka akan mengusirku?”“Benar, tidak seorang pun yang membawa seperti yang engkau bawa melainkan akan dimusuhi. Andaikan aku masih hidup pada masamu nanti, tentu akan membantumu dengan sungguh-sungguh.” Tidak lama kemudian Waraqah wafat dan wahyu pun tidak turun dalam beberapa Terputus untuk SementaraDiriwayatkan oleh Ibnu Sa’ad dari Ibnu Abbas yang intinya menyatakan bahwa setelah turunnya wahyu pertama, wahyu sempat terputus selama beberapa hari. Pada masa-masa terputusnya wahyu itu, Rasulullah hanya diam dalam keadaan termenung sedih. Kegelisahan melingkupi diri beliau. Dalam kitab At-Tabir, Imam al-Bukhari meriwayatkan naskah sebagai berikut“Menurut berita yang sampai kepada kami, wahyu berhenti turun hingga membuat nabi sedih, dan berkali-kali berlari ke gunung, dan ingin menjatuhkan diri dari jurang, namun setiap beliau mencapi puncak gunung untuk mencampakkan dirinya, malaikat Jibril menampakkan wujudnya sembari berkata, “Wahai Muhammad, sesungguhnya engkau benar-benar utusan Allah!”. Motivasi ini dapat menenangkan, dan memantapkan kembali jiwa beliau. Lalu pulanglah beliau ke rumah, namun ketika wahyu tidak kunjung turun, beliau pun mengulai tindakan sebagaimana sebelumnya, dan ketika dia mencapai puncak gunung, malaikat Jibril menampakkan wujudnya dan berkata kepadanya seperti sebelumnya.”Jibril Turun Membawa Wahyu untuk Kedua KalinyaIbnu Hajar menuturkan, “Selama wahyu terputus untuk beberapa hari lamanya, beliau ingin ketakutan, dan kedukaannya segera sirna, dan kembali seperti sebelumnya. Ketika bayang-bayang kebingungan mulai surut, dan beliau kembali menunggu-nunggu turunnya wahyu, Allah memuliakan beliau dengan wahyu untuk kedua kalinya.”Imam Bukhari meriwayatkan dari Jabir bin Abdullah, bahwa dia pernah mendengar Rasulullah menuturkan masa turunnya wahyu. Beliau bersabda, “Tatkala aku sedang berjalan tiba-tiba aku mendengar sebuah suara yang berasal dari langit. Aku mendongakkan pandangan ke arah langit, dan bumi. Aku mendekatinya hingga tiba-tiba aku terjerembab di atas tanah. Kemudian aku menemui keluargaku dan kukatakan, Selimutilah Aku, Selimutilah aku!. Lalu Allah Ta’ala menurunkan surat Al-Muddatstsir Ayat 1-5” yang berbunyiيَٰٓأَيُّهَا ٱلۡمُدَّثِّرُ ١ قُمۡ فَأَنذِرۡ ٢ وَرَبَّكَ فَكَبِّرۡ ٣ وَثِيَابَكَ فَطَهِّرۡ ٤ وَٱلرُّجۡزَ فَٱهۡجُرۡ ٥Hai orang yang berselimut. Bangunlah, lalu berilah peringatan. dan Tuhanmu agungkanlah. dan pakaianmu bersihkanlah dan perbuatan dosa tinggalkanlah. Setelah turunnya ayat-ayat di atas, maka wahyu datang secara berturut-turut dan dalam bentuk suara-suara yang berbeda, dan kadang-kadang muncul seperti gema lonceng. Tetapi pada periode akhir kenabiannya, wahyu turun dalam satu suara, yaitu suara malaikat proses turunnya wahyu ini Aisyah meriwayatkan bahwa Al-Harits ibn Hisyam pernah bertanya kepada Rasulullah, “Ya Rasulullah, bagiamana sampainya wahyu kepada anda?” Rasul menjawab “kadang-kadang wahyu diturunkan kepadaku seperti bunyi lonceng, dan inilah yang aku rasakan paling berat, kemudian bunyi lonceng tersebut menghilang setelah aku menghafal wahyu yang diturunkan itu. Kadang-kadang malaikat mendatangiku dengan wujud seorang laki-laki, lalu dia menyampaikan wahyu kepadaku, kemudian aku menghafal apa yang disampaikannya.”Setelah mendapat perintah, dan tugas baru yang harus dia laksanakan sebagai seorang utusan Allah, Nabi Muhammad kemudian menemui dan berbaur di tengah masyarakatnya untuk mengajar, berdakwah, dan menyampaiakan risalah barunya. Pada masa ini Nabi banyak mendapat makian dan hinaan dari masyarakat Quraisy, hingga menyebabkan berdakwah secara Wahyu di Tahun-Tahun Awal KenabianSingkat, tegas, ekspresif, dan mengesankan merupakan karakteristik wayu yang paling awal, yaitu surat-surat al-Makiyah. Pada tahun-tahun awal ini, kandungan dari wahyu yang turun adalah mengenai keagungan Allah, yang pada hari pengadilan akhir kiamat akan menimbang setiap perbuatan manusia. Wahyu-wahyu yang pertama menekankan kekhawatiran perihal hari kiamat, anjuran bersikap saleh, dan penuh kebajikan, dan peringatan atas kelalaian terhadap tugas, dan kewajiban, beserta kelalaian terhadap hari dari pengabdian diri kepada Allah, dan kekhawatiran akan ancaman di hari akhir adalah sikap sombong, membanggakan kekuasaan manusia, dan pengrusakan terhadap segala sesuatu di dunia. Hal ini merupakan ciri dari masyarakat Mekkah zaman jahiliyah, yang serakah, dan bersikap acuh terhadap nasib fakir miskin, acuh akan sikap kedermawanan, dan acuh terhadap kesejahteraan kelompok masyarakat lemah.[1] Sebenarnya terdapat banyak perbedaan pendapat mengenai penentuan hari turunnya wahyu. Ada yang berpendapat pada hari ke-7, ada yang berpendapat pada hari ke-17, dan ada yang berpendapat pada hari ke-17. Tetapi saya lebih setuju pada analisa bahwa malam ke-21 Ramadhan. Sebab, mayoritas pakar biografi sepakat bahwa Muhammad diangkat sebagai rasul pada hari Senin. Hal ini diperkuat riwayat dari Abu Qatadah, bahwa Rasul pernah ditanya mengenai tentang puasa hari Senin. Maka beliau menjawab, “Pada hari inilah aku dilahirkan, dan pada hari ini pula turun wahyu yang pertama kepadaku.” Dalam lafal lain disebutkan, “itulah hari aku dilahirkan, dan pada hari itu pula aku diutus sebagai rasul atau turun kepadaku wahyu.” Lihat Muslim, I/368; Ahmad, 51299; Al-Baihaqi, IV/286-300, dan Al-Hakim, Senin pada bulan Ramadhan tahun itu sendiri hanya jatuh pada tanggal 7, 14, 21, dan 28. Beberapa riwayat yang shahih telah menunjukkan bahwa Lailatul Qadr hanya jatuh pada malam-malam ganjil dari sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Maka, jika kita membandingkan antara firman Allah, “Sesungguhnya kami menurunkannya al-Qur’an pada Lailatul Qadr”, dengan riwayat Abu Qatadah, dan tanggal-tanggal jatuhnya hari senin bulan itu maka akan ditemukan bahwa hari diutusnya beliau menjadi Rasul jatuh pada malam tanggal 21 bulan Az-Zabidi. 2002. Ringkasan Hadis Shahih Al-Bukhari. Jakarta Pustaka M. Lapidus. 2000. Sejarah Sosial Ummat Islam. Jakarta RajaGrafindo K. Hitti. 2006. History of The Arabs. Jakarta Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri. 2011. Sirah Nabaiyah Ar-Rahiq Al-Makhtum. Jakarta Ummul Posts
- Al Quran adalah kitab suci bagi umat Islam yang menjadi pegangan dan dasar petunjuk kehidupan umat Muslim. Proses turunnya Al Quran terjadi secara bertahap selama kurang lebih 23 tahun. Adapun ayat pertama yang diturunkan adalah Surat Al-Alaq ayat 1-5. Lantas, bagaimana sejarah turunnya Al Quran?Baca juga Biografi Abdullah bin Amr, Salah Satu Perawi Hadis Pertama Sejarah turunnya Al Quran Turunnya Surat Al-Alaq ayat 1-5 menjadikan awal dari kenabian Muhammad. Selain itu, waktu turunnya Al Quran juga menjadi awal penyebaran agama Islam. Al Quran diturunkan dalam dua cara, yaitu Al Quran diturunkan secara lengkap di malam Lailatulqadar dari Lauh Mahfudz ke langit dunia Usai diturunkan ke langit dunia, Al Quran diturunkan ke Nabi Muhammad secara bertahap Selain itu, sejarah turunnya Al Quran dibagi menjadi dua periode, yaitu periode Mekkah sebelum hijrahnya Nabi dan Madinah setelah hijrah. Al Quran pertama kali diturunkan di Gua Hira, sebelah utara Mekkah, pada 17 Ramadan 610 M. Selama periode Mekkah, pada umumnya ayat yang diturunkan berisi tentang akidah paham terkait keimanan dan tauhid dasar ajaran agama Islam. Pada periode ini, terdapat 86 surat yang diturunkan selama 12 tahun lima bulan. Baca juga Waraqah bin Naufal, Imam Nasrani yang Memastikan Kenabian Muhammad Sedangkan ayat yang turun di Madinah umumnya berkaitan dengan muamalat hubungan manusia sebagai makhluk sosial, syariat aturan dalam kehidupan Islam, dan hukum Islam. Pada periode setelah hijrahnya Nabi Muhammad ini, terdapat 28 surat yang diturunkan selama sembilan tahun sembilan bulan. Ayat Al Quran yang terakhir diturunkan adalah surat Al-Maidah ayat 5. Pembukuan Al Quran Ketika wahyu pertama kali diturunkan, Rasulullah, yang tidak bisa membaca dan menulis, membacakannya kepada para karena itu, saat pertama kali Al Quran diturunkan, tidak langsung dibentuk kitab seperti sekarang ini. Setelah dibacakan Nabi Muhammad, ayat Al Quran ada yang dihafalkan, ada yang langsung ditulis. Ayat Al Quran yang turun ditulis di berbagai tempat, seperti di pelepah pohon kurma, lempengan batu, daun lontar, kulit bintang, kayu, pelana, hingga potongan tulang binatang. Baca juga Biografi Imam Abu Dawud, Salah Satu Penyusun Kitab Hadis Utama Selepas Nabi Muhammad wafat pada 632, umat Muslim dipimpin oleh Abu Bakar sebagai khalifah bagi umat Islam. Dalam pemerintahan Abu Bakar, banyak terjadi gejolak berupa pemberontakan dan ekspansi wilayah yang menimbulkan pertempuran. Akibatnya, banyak para penghafal Al Quran yang gugur. Hal itu menimbulkan kekhawatiran akan hilangnya Al Quran. Oleh karena itu, Umar bin Khattab merasa perlu untuk membukukan Al Quran dan mengusulkannya kepada Khalifah Abu Bakar. Khalifah Abu Bakar kemudian menunjuk Zaid bin Tsabit untuk memimpin proyek pembukuan Al Quran. Usai Al Quran berhasil dibukukan, kemudian dilakukan standarisasai pada masa pemerintahan Khalifah Utsman bin Affan. Selain itu, karena banyak terjadi perbedaan dialek di kalangan umat Islam, Khalifah Utsman memerintahkan untuk diseragamkan. Al Quran yang sekarang ini dijadikan pedoman menggunakan cara penulisan Utsman atau Rasm Utsmani. Referensi Sarwat, Ahmad. 2020. Sejarah Al Quran. Jakarta Rumah Fiqih. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Mari bergabung di Grup Telegram " News Update", caranya klik link kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
kenapa alquran tidak disusun dari wahyu pertama